Paris adalah kota paling romantis di dunia, tempat dimana kita dapat menemukan semua kisah cinta yang tak terkira sebelumnya.
Kaus pink bermotif ikan lumba-lumba bertuliskan Paris serta celana pendek berikat simpul sederhana, rambut panjang yang ikal bernari-nari indah. Kedua tanganku menyentuh, menggerakkan, dan meninggalkan bekas… ditemani dengan musik klasik yang terpasang di playlist handphoneku.
Aku punya kebiasaan menulis entah itu
puisi, cerita atau sekedar curhatan-curhatan. Yang aku rasain menulis itu
adalah hal yang tidak membosankan, karena banyak hal yang dapat aku tulis tanpa
harus di fikirkan terlebih dahulu.
Panggil saja aku Klara, aku seorang pemimpi
yang berangan akan pergi ketempat-tempat penuh keromantisan dan cinta termasuk kota Paris
bersama eiffelnya. Keinginanku ini datang sejak 2 tahun yang lalu saat tante
Rina ditugaskan ke Paris
dari kantornya selama 1 tahun, dan ia mengajak keluarganya untuk ikut tinggal
di Paris.
Siang itu, saat mengantar keberangkatannya
ke bandara perasaanku sangatlah iri terhadap tante Rina dan keluarganya sebab
mereka bisa pergi bahkan tinggal di Paris kota yang aku
impi-impikan. Tapi apapun itu hanyalah sebuah khayalanku untuk ada di kota penuh rahasia itu.
Seminggu setelah tante Rina dan keluarganya
pergi, tante sering sekali menelphon keluargaku untuk sekedar memberi kabar
atau melepas kangen pada keluarga yang ada di Indonesia, atau melalui jejaring
social seperti facebook dan yang lainnya. Skypepun menjadi sasaran kita untuk
berkomunikasi dengan jarak yang sangat jauh. Hampis setiap hari libur tante dan
keluarganya menghubungi keluargaku. Saat berbincang dengan tante lewat skype,
aku sangatlah antusias dengan keadaan di sana.
“tante
betah ya disana?, enak ga disana? Gimana suasananya?” Tanyaku penasaran.
“enak
banget loh ra, coba kamu ikut kesini” jawab tante sembari mengejekku.
Akupun melamun dan berfikir beruntung
sekali tante bisa tinggal disana, di kota yang
penuh dengan keromantisan, kota
yang penuh dengan keindahannya. Eiffel yang menjulang tinggi ke langit dengan
bermacam cahaya lampu yang menghiasi, membuatnya semakin indah untuk dilihat di
malam hari. Sungai-sungai yang berliku memiliki cerita di setiap sisinya,
gedung-gedung tua yang indah dan banyak menarik para pengunjung.
“Hmmmm
kapan ya aku bisa ke sana”
pekikku. Bukan hanya melihatnya dari foto-foto yang aku download selama ini.
Hari-hari berlalu sama seperti biasanya
yang di penuhi dengan mimpi-mimpiku pergi ke Paris, yang berbeda adalah pagi ini aku hanya
duduk manis di depan meja belajar yang tepat menghadap ke jendela kamar. Masih
dengan kertas-kertas kosong yang nantinya akan aku nodai dengan tinta pulpen
dan goresan-goresan pensil, temani dengan laptop yang terus-menerus memutarkan
musik-musik klasik.
Aku mulai menulis kata demi kata,
kalimat demi kaliamat, dan paragraf demi paragraf yang menemaniku hari itu.
Masih terus tentang kekagumanku dengan kota Paris dan eiffelnya. Aku
mulai lelah untuk menulis karangan-karanganku tentang paris, aku melanjutkannya dengan membuka
twitter dan mengupdet beberapa status. Dan saat itu aku mengupdate satu status
yang berisi “mau makan ice cream”, namun beberapa menit kemudian ada seseorang
laki-laki yang bernama Hadyan menanggapi statusku itu dan berniat menemaniku
makan ice cream. Awalnya aku hanya menganggap itu sebuah ketidak sengajaan,
tapi perasaan ini seperti nyambung saat berbicara dengannya walau hanya melalui
twitter seperti itu.
Keesokan harinya saat aku ingin pulang
dari kampus, aku bertemu dengan Hadyan yang mau menemaniku makan ice cream dan
lantas aku menegurnya.
“Hey,
kapan mau kesana?” Tanyaku cepat.
“kalo
hari ini gue gak bisa,sabtu mungkin” jawabnya sambil mengalihkan penglihatan.
Aku
hanya mengiyakan jawabannya dan lekas meninggalkannya pergi pulang kerumah,seakan
itu hanya angin lalu. Sesampainya di rumah aku beristirahat karena 2 jam
setelah itu akan ada kursus, entah kenapa saat itu aku terus memikirkan
laki-laki itu. Ia terus ada di fikiranku hingga pada akhirnya aku pergi ke
tempat kursus. Aku berniat meminta nomer telephon Hadyan pada salah satu teman
kursusku yang memang 1 kampus denganku.
“Jani,
punya nomer Hadyan gak ? ,anak yang tadi ngobrol sama aku tadi pas pulang
kampus.”
“ada
nih, buat apa?” tanyanya bingung
“minta
dong, gak apa-apa ada perlu aja” jawabku tenang.
Dan
usahaku berhasil untuk mendaatkan nomer telphon Hadyan.
Waktu menunjukan pukul 18.00 dan
akupun sampai dirumah, aku langsung menuju kamarku saat itu karena merasa
sangat lelah. Sampai di kamar aku langsung menghidupkan laptop dan memasang lagu
Gift of a friend yang di nyanyikan oleh Demi Lovato. Saat mendengerin lagu terlintas laki-laki itu,
sesegera mungkin aku mengambil handphone dan mengirim pesan padanya.
Beberapa
menit kemudian ia membalas pesanku, dan pesan-pesan itu memerangi inbox di
handphoneku yang seakan berteriak “baca aku,balas aku”. Pesan itu terus-menerus
ku tanggapi hingga larus malam bahkan hingga pagi menjelang.
Kamar menjadi saksi bisuku saat itu, hatiku
merasa bahagia sejak malam itu. Laptop ku nyalakan dan seperti biasa buka
twitter sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku,saat itu rasanya aku sangat
ingin makan cheese cake bahkan aku menjadikannya sebuah status di twitter “mau
makan cheese cake harvest”, tak lama kemudian Hadyan datang kembali di timeline
twitterku dan membalas status twitterku saat itu.
“minta
bawain aja sama ojek Superman” kata Hadyan
saat membalas statusku. Semalam aku dengannya terus membahas tentang superman, akhirnya aku ganti nama Hadyan
menjadi “superman” di contact hp ku. Hari demi hari ku lalui dengan pesan-pesan
singkat darinya yang terus memenuhi inbox di hp-ku, senyum-senyum sendiri itu
menjadi ritualku setiap kali aku membaca pesan darinya. Hanya ada senyum,canda
dan tawa yang aku tau semenjak dekat dengannya. Pagi, siang, sore, malam hingga
pagi kembali laki-laki itu selalu menemani
dan menghiburku.
Hari sabtupun tiba, sebelumnya kita memang
janjian di depan pintu gerbang kampus. Sesuai dengan janjinya yang ingin
mengajak ku pergi hari itu, dan saat sampai di depan gerbang kampus Hadyan
langsung menyamparku. Tanpa banyak bicara Hadyan langsung membawa ku pergi,
bahkan aku tidak tau mau di bawa pergi kemana saat itu.
Mobil terus melaju dan aku terus
bertanya-tanya kepadanya
“kita
mau kemana ?” tanyaku penasaran.
Tapi
hanya tawa kecil dan senyuman yang ku tangkap darinya, aku semakin penasaran
karena Hadyan tidak mau memberi tau kemana kita pergi. Mobilpu berhenti tepat
di depan sebuah toko,
“Tadaaaa…
kita mau kesini” ucapnya dengan penuh kebahagiaan.
Lagi-lagi
aku hanya bisa diam dan tesenyum melihat apa yang ada di hadapanku, sebuah toko
kue yang ingin aku kunjungi dan ku nikmati kue-kue yang lezat itu. Berbagai kue
disediakan di toko itu dn kitapun memesan beberapa kue dan minuman, ya tidak
penting apa yang kita pesan saat itu yang paling terpenting adalah kebersamaan
kita saat itu. Kebersamaan dan kebahagiaan yang kita dapat saat itu.
Toko kue itu menjadi awal dimana kita saling
mengenal satu sama lain dan lebih jauh. Bertukar cerita, bertukar pikiran dan
saling berpandangan. Tanpa terasa matahari mulai berada tepat di atas kepala
menandakan hari mulai siang dan kita beranjak pergi meninggalkan toko kue itu.
Pagi begitu indah untuk kita lalui bersama, dan berharap itu menjadi moment
pertama yang sangat berkesan. Kitapun berpisah dan pulang kerumah
masing-masing.
Sesampainya dirumah aku mengirim pesan
untuknya lewat sms,
“makasih
ya buat hari ini, aku seneng. Maaf ya ngerepotin”.
Tidak
lama kemudian pesanku pun dibalah olehnya dan terus berlanjut hingga
seterusnya.
Hari itu hari minggu, hari yang berbeda
dengan hari-hari libur sebelumnya. Setiap hari libur, biasanya aku hanya
menghabiskan waktu di kamar, tapi tidak untuk hari itu. Bahkan aku tidak bisa
diam, entah ada apa dengan diriku sat itu. Rasanya aku belum pernah merasa sebahagia
ini, senyum-senyum depan cermin dan terus menatap layar handphone berharap
pesan singkat datang darinya setiap saat.
Hingga
aku terus bertanya pada hati dan perasaanku sendiri,
Apakah
aku merasakannya lagi ?
Apakah
ini yang namanya jatuh cinta?
Semoga
perasaanku ini benar, dan semoga perasaanku ini jatuh pada seseorang yang
tepat.
Empat hari setelah aku pergi dengannya,
pagi itu terlihat biasa saja namun perasaanku yang tidak biasa. Jantungku
terasa berdebar lebih cepat saat itu, jam tanganku menunjukan pukul 11.00 dan
tiba-tiba saja handphoneku bergetar menandakan ada pesan masuk. Ku ambil
handphone dari saku celana jeans yang aku kenakan saat itu dan ku lihat “superman” di layar handphoneku. Aku membuka pesan
dengan rasa deg-degkan dan isi pesannya,
“aku
mau ketemu kamu sekarang, aku tunggu kamu di depan ruang seni”.
Aku
bingung harus berbuat apa, tiba-tiba dada ini terasa sangan mencekam dan
jantung ini seakan menghentikan detaknya. Aku takut, aku bingung, perasaan ku
tak karuan. Dengan perasaan yang tak tentupun aku menemuinya, saat aku sampai
di dapn ruang musik…
Aku
meliatnya duduk tepat dihadapanku, dan hadyanpun mulai bericara.
“mungkin
ini emang terlalu cepat buat kita, tapi aku anggap ini waktu yang tepat”
ucapnya gugup.
Aku
hanya diam, tubuhku dingin seketika seperti beku dan tak dapat berbuat apa-apa.
“ini
bunga buat kamu. Kalo kamu mau jadi pacar aku, kamu ambil bunga ini”
Aku
diam, berfikir apa yang harus aku lakukan saat itu.
“iya
aku mau jadi pacar kamu” jawabku sambil mengambil rangkaian bunga yang ada di
genggamman tangannya.
“satu
lagi, ini buat kamu juga” katanya sambil memberikan sebuah benda kecil yang
terbungkus oleh kertas kado.
“makasih
ya” balasku dengan senyum sebelum meninggalkannya di tempat itu.
Hatiku terasa sangat berbunga-bunga,
itu memang bukan pertama kali aku merasakan jatuh cinta tapi saat itu rasanya
sangatlah bahagia. 10 tangkai bunga mawar merah dan 1 tangkai bunga mawar putih
menjadi teman perjalanan pulangku kerumah, aku terus tersenyum sendiri
sampai-sampai banyak orang yang melihat ke arahku dan seakan membalas senyumku.
Mungkin mereka mengira aku memberikan senyum kepada mereka, tapi kenal saja
tidak mengapa mereka membalas senyumku itu.
Sepanjang
perjalanan di kompleks rumahku, lagi-lagi aku tersenyum sendiri sambil memeluk
rangkaian bunga yang Hadyan berikan. Saat di gerbang rumah aku cepat-cepat
membuka pagar dan memencet bel dengan semangat, tak lama terdengar suara kunci
dan pintu yang baru saja di buka. Ani pembantu yang berkerja di rumahku
membukakan pintu, ia berdiri kaku tepat di depanku.
“wahh
non, kok senyum-senyum sendiri gitu. Bunga dari siapa non? Bagus banget” tanyanya
dengan wajah penasarannya.
“dari
siapa ya… mau tau aja sih kamu” jawabku sambil berjalan memasuki rumah.
Pembantuku yang satu itu memang selalu kepo (penasaran) sama apa yang aku dapat
dan lakukan. Tapi ia adalah orang yang selalu mendengarkan dan menemaniku
curhat kalau saja aku sedang merasakan sesuatu, contohnya hari itu. Tanpa
mengganti bajuku terlibih dahulu, aku langsung cepat-cepat pergi ke dapur dan
mencari vas bunga untuk menaruh rangkaian bunga yang ku terima.
Aku sibuk mencari vas bunga di setiap
lemari dan laci yang terdapat di dapur tapi tidak ketemu, akupun memanggil Ani
untuk membantuku mencari vas bunga tersebut. Tetapi saat mecari vas bunga Ani
sangat cerewet menanyakan banyak hal tentang hari itu, terutama tentang
seseorang yang memberikan bunga kepadaku.
“Non
bunganya dari siapa sih? Buat ani aja deh ya”.
Karena
kasihan melihat dirinya yang dihantui dengan kekepoan, akhirnya aku menjelaskan
kejadian yang ku alami siang itu di kampus.
“gini
loh ni, tadi itu di kampus aku abis di tembak sama cowok. Dia ngasih aku bunga
yang tadi aku bawa, romantis gak kalo di tembak cowok kaya gitu?”.
“ooooh
jadi bunga itu dari pacarnya non toh, romantislah non. Coba Ani yang di kasih
bunga kaya gitu pasti Ani seneng banget non”.
“halah
kamu ngayal aja ni, mana ada cowok yang mau ngasih bunga sebagus itu ke kamu”
ledek ku sambil menertawakannya.
“ah si
non bisa aja hahaha…” jawabnya sambil tertawa.
Dan
saat itupun dapur dipenuhi oleh suara tawa kita berdua.
“nah
ini vas bunganya non” ucap Ani sambil memengang vas bunga yang baru saja ia
temukan.
“oke,
makasih loh ni” jawabku sambil mengambil vas bunga yang ada di genggaman Ani
saat itu.
Aku cepat berlari menaiki anak tangga
dan pergi masuk ke kamarku, di kamar aku menaruh vas bunga di meja belajar
tepat di sebelah laptopku. Aku membuka tas dan mengambil benda kecil yang
terbungkus oleh kertas kado yang Hadyan beri sebelum aku pergi meninggalkannya,
ku buka kertas kado yang menyelimuti benda tersebut. Ternyata isinya adalah
sebuah CD bercover lambing superman dan bertuliskan “untuk Klara dari superman”, aku sangat senang memanggil
Hadyan dengan sebutan superman karena
kita sering sekali membicarakan tetang superman.
Laptop ku nyalakan dan ku pasang CD tersebut, awalnya hanyalah musik-musik
klasik yang terdengar tetapi tak lama kemudian syair-syair puisi yang
terdengar. Aku ingat salah satu syair puisi yang ku dengar dari CD itu “Cinta itu seperti kupu-kupu, semakin di
kejar maka ia akan pergi. Tetapi apabila kita tidak menyadarinya maka ia akan
datang menghampiri kita dengan sendirinya”.
Bunga dan CD yang Hadyan berikan ku
simpan tanpa aku hiraukan bahwa bunga tersebut sudah mulai layu dan menjadi
kering kerontang, tapi bunga dan CD itu baru awal kebahagiaanku bersamanya dan
masih banyak kebahagiaan lainnya yang aku lalui bersamanya.
Aku masih terus berharap dengan kota paris,
hingga suatu ketika di sebuah toko buku bersama Hadyan. Aku menemukan berbagai
macam buku bercover tempat-tempat yang ada di luar negri.
“dari
semua tempat yang ada di situ kamu mau kemana?” Tanya Hadyan kepadaku.
Aku
menunjuk satu buah buku yang bercover menara Eiffel dan menara tersebut tepat
berada di kota paris,
kota yang aku
idam-idamkan.
“tunggu
ya 1 tahun lagi kita kesana” jawabnya dengan senyum yang selalu menenangkan
perasaanku.
Aku
hanya diam dan tersenyum berharap semua itu bukan hanya ucapan tapi juga
kenyataan.
Tak terasa 1 tahun sudah setelah keberangkatan
tante Rani ke paris,
dan hari itu aku disuruh oleh bunda menjemput tante Rani dan keluarganya di
bandara, ya karna memang hanya aku satu-satunya anak ayah dan bunda yang masih
tinggal dirumah jadi ya hanya aku yang bisa di minta pertolongan kalau masalah
pergi-pergi atau menjemput seperti ini. Sedangkan kakak-kakaku sudah tinggal
bersama istrinya dirumah mereka masing-masing, tentu dengan anak-anaknya juga.
Untung saja perjalanan menuju bandara tidak menuju bandara tidak macet, kalau
macet bisa-bisa aku dimarahi bunda karna telat menjemput tante dan keluarganya
di bandara.
Akupun mencari parkiran yang kosong
dan segera menunggu tante Rani yang akan mendarat di bandara Internasional
Soejarno-Hatta, tak lama saat aku menunggu tante Rani handphoneku pun bunyi.
Tante Rani menelpon ku memberitau bahwa ia sudah sampai di bandara, dan saat
telephone tertutup ada suara perempuan memanggil-manggil namaku dari kejauhan.
Suara itu adalah suara sepupuku bernama Desvi, ia adalah anak tante Rani yang
ke dua dan anak yang pertama bernama Feldi mereka hanya beda selang 3 tahun dan
4 tahun denganku. Aku ini sangat akrab dengan mereka berdua, terlebih dengan
Desvi karena kita sama-sama perempuan sehingga sering sekali bertukar cerita.
Setelah aku menyampar tante Rani dan keluarganya, kita segera pergi ke parkiran
dan meluncur ke suatu Mall di daerah Pondok Indah. Di sana kita makan siang dan berbincang-bincang,
ya terlebih menceritakan saat tante Rani dan keluarganya berada di Paris.
Saat
berada di restoran, kami memesan beberapa makanan dan minuman untuk menemani
obrolan siang itu.
“Ra
kapan-kapan kita pergi ke Paris
rame-rame yu!” ucap tante saat menunggu pesanan datang.
“ayo
tante, kapan?” jawabku saat itu.
“nanti
ya kalo kita barengan liburnya” kata tante.
“asikkkk
kita mau ke paris rame-rame, jalan-jalan ke kota idamanku” seruku
sangat gembira.
“lohh
kamu suka Paris
ra?” Tanya tante menyela pembicaraanku.
“hehehe…
iya tan, abis Paris
itu keren banget sih kalo aku liat di foto-fotonya. Ditambah lagi tante bikin
aku iri bisa pergi kesana”
“hahaha…
kalo gitu sih kenapa kamu gak ikut aja ke Paris
tahun lalu sama tante?”
“yahh
tan, kan aku
kuliah disini. Masa iya aku ga kuliah setahun” jawabku dengan wajah cemberut.
“iya
juga sih, tapi kan
kamu jadi iri tuh sama tante” jawab tante mengejekku.
Tak
lama kemudian pesananpun datang, dan kamipun menikmati makan siang
bersama-sama.
Saat perjalan pulang, kami terus
bercerita hingga kamipun sampai dirumah. Lelah sekali rasanya hari itu, di
lalui dengan penuh cerita canda dan tawa. Terutama bercerita tentang
kekagumanku dan pengalaman tante Rani dan keluarganya di Paris, ada suka
dukanya selama mereka disana ya walupun lebih banyak sukanya kata tante Rani
tapi di seling-selingan suka pasti ada dukanya termasuk duka karena ekonomi disana
berada pada tingkat lebih tinggi di banding ekonomi di Indonesia, semua disana sangatlah mahal
semurah-murahnya juga tidak sebanding dengan Indonesia. Ya maklumlah orang
indonesiakan maunya yang murah-murah apa lagi perempuan, ada diskon sedikit
langsung diserbu bagaimana kalau ada yang gratis pasti belum sampai semenit
sudah ludes semuanya.
Sampai di rumah, aku langsung saja
pergi ke kamar mengambil baju dan handuk lalu mandi. Mandi air hangat saat
tubuh lelah itu rasanya damai, seakan tubuh yang tadinya lemah menjadi segar
kembali.
Selesai
mandi aku tidak lagi memikirkan cacing-cacing yang diperut ini sudah bernyanyi,
karena lelah langsung saja aku merebahkan badan di kasur dan menenggelamkan
wajahku dibantal, tak sampai 5 menit aku sudah tidur lelap karena terlalu
lelah.
Tiga bulan setelah tante Rani pulang dari Paris,
Tante
Rani bilang padaku bahwa ada sebuah undian tiket berlibur ke Paris dari salah
satu produk ternama di Indonesia dan ia memberikan selembar kertas yang
bertuliskan “Undian Berlibur ke Paris”, akupun dengan semangat mengikuti undian
tersebut tanpa lupa memberi tau Hadyan saat itu.
Saat pulang kuliah aku berniat ingin
bertemu dengannya dan menceritakan tentang undian Paris itu, kita janjian jam 16.00 di toko kue
yang pernah aku kunjungi dengannya waktu itu. Mata kuliahpun selesai dan aku
segera pergi meluncur ke toko kue itu, aku sangat tidak sabar untuk memberi tau
tentang undian itu keada hadyan dan aku ingin tau apa reaksinya saat ia tau
tentang undian itu.
Akupun
sampai di toko kue, masuk kedalam toko itu dan menemui hadyan yang memang sudah
menungguku sejak setengah jam yang lalu.
“heyy
mas, udah lama ya nunggunya ?” kataku memecahkan suasana canggung yang tersudut
kepada kita berdua.
“hemm
enggak ko biasa aja” jawabnya menutupi kekesalan karena telah lama menungguku
ditempat itu.
“maaf
deh, akunya kan
baru selesai ngampus jadi lama deh” ucapku dengan rasa bersalah telah
membuatnya menunggu.
“iya
gak apa-apa ko” jawabnya dengan senyuman manis yang menenangkan suasana saat itu.
“oh ya,
kau udah pesen cake?”
“udah
ko, kamu juga udah aku pesenin ko. Biasa cheesecake sama milkshake chocolate
hehehe..” jawabnya tenang.
“hehehe
tau aja kamu kesukaan aku” dengan tawa aku menanggapinya.
Cheesecake
dan milkshake chocolate adalah menu favoritku sejak dulu setiap kali ke toko
kue itu, dua sajian itu memberikan kenikmatan tersendiri dibenakku.
Akupun memulai menceritakan tentang
undian itu kepada Hadyan sembari menunggu pesanan datang.
“mas
aku dapet ini” sambil menunjukan lembar undian tersebut.
“apa
itu ?” tanyanya penasaran sambil mengambil undian itu dari tanganku.
“itu
undian liburan ke Paris, aku dapet itu dari
tanteku yang baru pulang dari Paris
3 bulan yang lalu.”
“wahhh
mau dong.. ini buat aku ya, atau masih ada lagi gak?” pintanya dengan tatapan
maut yang membuatku salah tingkah.
“enak
aja gak boleh ah, udah gak ada mas. Aku Cuma dapet satu dari tante, itu juga
dapetnya karena dia beli produk gitu di supermarket.” jawabku menerangkan
padanya.
“yah
padahalkan aku juga mau ke Paris”
keluhnya dengan merubah raut mukanya yang menjadi berkerut-kerut tak teratur
seperti menunjukan rasa kecewa.
Pelayanpun datang membawa pesanan ku dan
Hadyan berdua, dan pembicaraanpun di selesaikan karena tidak dapat menahan
dahaga akan sajian yang ada di hadapan kita.
Sore itu terasa sangat cepat, sehingga
matahari terperosot kearah barat dan hilang di telan kegelapan malam yang di
gantikan dengan sinar rembulan dan bintang-bintang. Cake dan minuman yang kita
pesanpun sudah habis tanpa sisa sedikitpun kecuali piring dan gelasnya. karena
hari sudah malam, maka kitapun harus pulang kerumah agar orang tua kita tidak
khawatir.
Hadyan mengantarku sampai depan rumah dan
tak lupa mengucapkan salam perpisahan, tak lama kemudian mobilnyapun sudah tak
terlihat lagi di ujung tikungan rumahku dan akupun masuk ke dalam rumah. Entah
itu kebererapa kalinya aku melewati waktu dengannya, namun terasa nyaman setiap
berada di dekatnya. Mungkin itu terasa karna adanya rasa sayang di hati ini,
halah lebay banget aku ini bentar-bentar cinta hahaha biarlah yang penting
hidupku bahagia dan di akhirat nanti juga akan bahagia.
Ayam sudah berkokok menandakan sang fajar
telah muncul, hari itu aku pergi ke kantor Pos untuk mengirim lembar undian
tersebut ke alamat yang di tetapkan pada produk ternama itu. Proses
pengirimanpun memakan waktu 2 hari karena memang jarak yang lumayan jauh ke
tempat tujuan, akupun menunggu pengumumman undian tersebut. Tetapi 4 hari
setelah aku mengirim undian tersebut lewat pos , aku menerima sebuah kiriman
yang ternyata kiriman itu adalah undian yang aku kirimkan 4 hari yang lalu.
Tubuhku sangat tak berdaya, lemah saat melihat undian itu tidah terkirim karena
salahnya alamat yang dituju. Aku hampir setengah putus asa, hingga akhirnya aku
menelphon Hadyan dan menceritakan semuanya yang telah terjadi saat itu.
Nada telephonpun berbunyi
menyambungkan telphonku ke handphone Hadyan, tak lama terdengar suara hadyan
menerima telphonku.
“hallo,
kenapa sayang ? ko tumben telphon aku siang-siang kaya gini.” tanyanya bingung.
“aku
bete mas, undian yang aku kirim salah alamat” jawabku sambil menahan tangis.
“ya
ampun, kok bisa ? memang kamu kirim ke alamat yang mana?”
“aku
kirim ke alamat yang ada di lembar undiannya mas” jawabku sambil menitihkan air
mata.
Hadyanpun
mengetahui bahwa aku menangis saat berbicara dengannya lewat telephon, dan ia
pun berusaha menenangkanku.
“udah
dong jangan nangis sayang, tenang ya. Besok kamu bawa undiannya ke kampus terus
kita ketemu ya, nanti aku bantuin biar alamatnya ga salah lagi terus kita ke
kantor pos kirim ulang undiannya.” Ucapnya yang berusaha menenangkanku.
“iya
mas besok aku bawa deh, tapi masih sedih” jawabku dengan nada kecewa.
“udah
nangisnya ya sayang, kan
besok aku bantuin. Semoga aja bisa dan semoga aja kamu menang, jangan patah
semangat dulu sayang” katanya menyemangatiku,
“yaudah
iya, makasih ya mas udah nenangin aku. Telephonnya udah dulu ya aku mau
istirahat, dadah mas.” Ucapku sebelum menutup telephon.
“dadah..”
ucapnya saat menutup telephon.
Akupun
beristirahat dan berharap semoga waktu cepat berlalu agar hari berganti menjadi
esok.
Keesokan harinya saat bertemu Hadyan
di kampus aku memberi amplop yang berisi undian kepadanya agar di perbaiki,
“nih
mas undiannya” ucapku saat menyerahkan amplop tersebut kepadanya.
“hemm
coba aku periksa ya” ucapnya saat melihat amplop itu.
“iya
mas” jawabku semangat.
Hadyanpun
meneliti kata demi kata yang ada pada amplop dan undian tersebut dan ia
menemukan sesuatu.
“nahh
ini dia kesalahannya, sayang jelas gak sampai ke tujuan. Kamu salah nulis
alamat, yang kamu tulis itu bukan alamat dari produknya” ucapnya sambil
menunjuk alamat yang berada pada lembar undian tersebut.
“huh
pantesan aja, terus alamat yang benernya mana?” jawabku lega.
“nihh
yang ini” menuntun tanganku menunjuk alamat tersebut.
“walah
kalo gitu sih hari ini aku bisa langsung pergi ke kantor pos buat mengirim
ulang” jawabku dengan penuh semangat.
“oke
aku temenin ya” katanya sambil merayuku.
“iya-iya
kamu temenin deh, makasih ya sayang” jawabku sambil memegang tanganya.
Siang itu aku dan Hadyan pergi ke
kantor pos untuk mengirim ulang undian itu, sesampainya di kantor pos aku
cepat-cepat mengurus pengiriman tersebut karena sebentar lagi kantor pos itu
akan tutup. Selesai mengurus pengiriman itu kita berdua pulang dan lagi-lagi
Hadyan mengantarku sampai rumah. Di perjalanan pulang aku berbicara kepada
Hadyan ,
“mas
doain ya semoga undian aku kekirim, terus aku menang” ucapku lirih sambil
memandanginya yang sedang menyetir mobil.
“iya
aku doain kok, aku kan
selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu” jawabnya dengan sesekali menoleh ke
arahku.
“makasih
mas”.
Di
depan rumahku kita berpisah, saling mengucapkan salam perpisahan ritual yang
wajib dilaksanakan sebelum kita berpisah. Layaknya seorang anak kecil yang
ingin berpisah dengan temannya setelah bermain bersama.
Satu bulan setelah aku mengirim undian
tersebut, aku menerima pos kembali. Perasaanku gugup takut kalau itu adalah
undianku yang tidak terkirim lagi, amploppun ku buka dan ku mulai membacanya
dengan hati-hati. Dan ternyata isi amplopnya adalah selembar kertas berukuran
A4 yang disitu tertulis “SELAMAT ANDA MEMENANGKAN UNDIAN BERLIBUR KE PARIS
SELAMA SEBULAN, yang di sponsori oleh Neurin”.
Saat
itu perasaan ku tak lagi gugup tapi berubah menjadi terkejut, rasanya seperti
mimpi bahwa aku akan segera pergi berlibur ke kota idamanku.
“Aaaaaaaaaaaaaaa………
horeeeeee… akhirnya aku menang” teriakku sekencang mungkin sehingga membuat
orang-orang yang dirumah terkaget-kaget.
“apa-apaan
sih kamu ra teriak-teriak kaya gitu, berisik tau” ucap bunda memarahiku karena
heran dengan kelakuanku.
Akupun
langsung berlari dan memeluk bunda dengan erat, sehingga bunda semakin bingung.
“iihhh
kamu ini kenapa sih ra, aneh banget” Tanya bunda kebingungan.
Akupun
melepaskan pelukanku dan berkata,
“ini
loh bun ini, aku menang” sambil menunjukan lembaran yang baru saja aku terima.
“coba
bunda liat sini”
“nihh
nihh bun” memberikan lembaran itu kepada bunda.
“Alhamdulillah
anak bunda menang undian ke Paris”
ucap bunda penuh syukur kepada Allah.
“iya
bun, Alhamdulillah banget bisa menang. Oh ya bun aku mau kasih tau Hadyan dulu
ya hehehe” ucapku dengan penuh senyuman.
“oke
deh” jawab bunda.
Akupun cepat-cepat menelphon Hadyan,
tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang taka sing di telingaku.
“hallo,
kenapa sayang ?”.
“aku
seneng banget-banget” jawabku dengan semangat 45.
“wahh
bagus dong, seneng kenapa nih kamu?” tanyanya penasaran.
“aku
menang undian mas” .
“Alhamdulillah,
akhirnya ga sia-siakan usaha kamu sayang”.
“iya
mas, tapi kan
berkat kamu juga. Kalo aja waktu itu kamu gak teliti pasti aku gak bisa
sebahagia ini”.
“hehehe
jadi malu nih” jawabnya sambil tertawa kecil.
“maksih
ya sayang” ucapku dengan lembut.
“iya
sama-sama”
Namun
tiba-tiba suaraku berubah menjadi melemah,
“tapi
gak seru, kesananya cuma sendirian. Coba kesananya sama kamu” .
“ya
tapikan mau gimana lagi, aku kan
gak ikut undiannya” jawabnya dengan nada lemah mengikuti nada bicaraku.
“iya
sih, yaudah deh gak apa-apa. Udah ya yang kasian bunda bayar telephonnya nanti
mahal hehehe… dadah mas” ucapku sebelum menutup telephon.
Tiga hari setelah aku menerima pos dari
Neurin, akhirnya keberangkatan menuju Paris dilaksanakan. Keluarga mengantarku
sampai di bandara tapi ada yang kurang, aku tidak melihat Hadyan saat itu.
Mungkin dia sibuk, pikirku saat itu. Walau dengan hati sedih karena Hadyan
tidak ada, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk melupakan sedih karena hari
itu adalah awal dari perjalananku ke Paris.
Sebelum berangkat aku berpamitan keada keluargaku, dan mereka seperti tidak
rela membiarkan aku pergi sendirian, dan aku memasuki pesawat menikmati
penerbangan walau membosankan karena untuk pergi ke Paris saja menunggu 4 hari untuk sampai. Yang
aku lakukan di pesawat hanyalah makan, minum, nonton film yang disediakan,
mendengarkan lagu, dan tidur.
Akhirnya sampai juga di Paris, saat
turun dari pesawat dan mengurus kedatanganku di Paris. Aku melihat seseorang
yang sepertinyaku kenal, ah tapi tidak mungkin mana ada orang Indonesia di sini selain
orang-orang yang mempunyai nasib yang sama denganku yaitu memenangkan undian.
Akupun
menuju ke suatu hotel yang tak jauh dari bandara bersama rombonganku, sampai di
hotel aku melihat lagi seseorang yang sepertinya ku kenal tadi saat di bandara.
Tapi aku sedang sibuk mencari-cari kamar hotel dan akhirnya aku tidak
menghiraukan seseorang itu. Saat aku temukan kamarnya , aku sgera membuka pintu
kamarnya dan masuk untuk beristirahat.
Malamnya rombonganku mengadakan tour
ke menara Eiffel, akupun teringat Hadyan yang waktu itu pernah berkata padaku.
“tunggu satu tahun lagi kita kesana”, dan kata sana
dalam pembicaraan itu adalah Paris.
Aku
merasa sedih karena ini tepat setahun setelah Hadyan berbicara seperti itu
kepadaku, tapi Hadyan tidak ada disini bahkan ia tidak memberi kabar kepadaku
sejak keberangkatanku ke Paris.
Aku dan rombongan berangkat menuju menara Eiffel malam itu, dan saat sampai di
menara Eiffel kami berpencar dan akan berkumpul lagi pukul 21.00 di tempat kami
sebelum berpencar.
Aku berjalan mendekati menara Eiffel,
dan saat itu aku melihat seseorang yang mirip sekali dengan orang yang ku kenal
selama ini. Orang itu jalan mendekatiku, dan akupun menerka-nerka memperjelas
pandanganku terhadap orang tersebut. Semakin dekat dan dekat berdiri tepat
didepanku, hanya ada jarak 10cm dari tempat aku berdiri dan orang itu berdiri.
Ku perjelas kembali pandanganku kepada orang itu, dan aku merasa ini adalah
mimpi. Orang yang berasa di depanku saat itu adalah orang yang sedang aku
rindukan, seseorang yang memiliki mimpi bersamaku di kota ini. Orang tersebut adalah Hadyan,
akupun cepat-cepat memeluknya dan berkata,
“kenapa
kamu bisa ada disini ?”.
Hadyan
berusaha melepaskan pelukanku dan menjelaskan semuanya kepadaku. Ternyata saat
aku memberi tau tentang undian itu Hadyan cepat-cepat mencari produk yang aku
sebutkan setelah mengantarku pulang kerumah, dan ia juga mendapatkan lembar
undian yang sama sepertiku. Setelah ia mendapatkannya esoknya ia langsung
mengirimkan undian itu melalui pos dan ia mendahuluiku sehingga ia tau apa
kesalahanku saat menuliskan alamat diamplop saat itu. Ia sengaja tidak memberi
tauku tentang ini dan ia sengaja tidak memberi kabar kepadaku sejak
keberangkatan ke Paris.
Dan ia sengaja menghindariku selama penerbangan hingga sampai di hotel siang itu
agar semua ini menjadi kejutan untukku, ia adalah seseorang yang selalu tau
membuatku bahagia tanpa aku kira sebelumnya.
Malam itu menara Eiffel menjadi saksi
bisu kita berdua, saat aku dan Hadyan sedang menikmati indahnya pancaran sinar
lampu yang menghiasi Eiffel tiba-tiba Hadyan berubah menjadi serius.
“kamu
inget gak, waktu satu tahun yang lalu aku pernah bilang apa ke kamu?” tanyanya
dengan wajah serius.
“iya
aku inget, kamu bilang kita akan ke tempat ini di tahun ini” jawabku sambil
menatap matanya.
“ya,
hari ini tepat setahun setelah perkataanku itu. Aku mau kasih kamu ini” ucapnya
sambil mengeluarkan suatu benda dari jaket yang ia kenakan saat itu.
Dengan
setengah berlutut ia memegang tanganku dan membuka sebuah kotak yang berisi
cincin.
“mas ini
apa-apan sih?” tanyaku gugup.
“biar
Eiffel yang menjadi saksi kisah kita saat ini, biar Eiffel yang menjadi saksi
tulusnya kasih sayang aku kepada kamu.”
Dan
Hadyanpun memasangkan cincin itu di jari manisku.
Entah
kisah romantis apa lagi yang ada dalam mimpiku. Satu mimpiku sudah tercapai
yaitu, pergi keparis menemukan cinta sejatiku yang tak pernah terduga selama
ini.
Semua mimpi dan angan akan menjadi
kenyataan dalam hidup apabila semua itu dibarengi oleh usaha dan doa.
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar