Rabu, 27 April 2016

Belajar mengikhlaskanmu

Ya tuhanku, semoga keputusanku ini yang terbaik. Aku hanya berusaha untuk mengikhlaskannya pergi, aku tak punya maksud untuk melupakannya bahkan membencinya.
Aku tak mungkin bisa melupakan dan membencinya, karena ia pernah membuat hidupku memiliki cerita yang tak biasa.
Hari ini aku mencoba untuk merelakannya, tapi entah kenapa tuhan mempertemukan kita secara tidak sengaja. Apa saat kita bertemu tadi adalah ujian tuhan tentang mentalku menemuinya??
Saat bertemunya tadi, aku hanya berusaha tenang dan menganggap ini hanya pertemuan biasa.
aku pun menyapa mu saat itu, kamu pun bertanya aku dari mana dan aku menjawab dari toko buku. kamu bertanya lagi mau kemana, dan aku menjawab mau pulang. kamu berpamitan untuk pergi dan aku hanya menjawab iya dan pergi dengan perasaan yang membingungkan.
Di perjalanan pulang, aku berpikir untuk menghubunginya. Tapi entah apa yang harus aku sampaikan, dan aku pun menghubunginya via whatsapp.
Aku banyak berterima kasih padanya, dan ia pun membalasnya mengatakan
"God knows the best, semoga kelak kalau kita dipertemukan lagi aku akan menjadi seseorang pribadi yang lebih baik untuk menjagamu dan mengayomimu. Kamu baik-baik ya, kita gak tau kehendak tuhan. Makasih atas semua kenangan ini."
Mungkin ini hari terakhirku bertemu dengannya, hari terakhirku mendapatkan pesan darinya.
Aku hanya berusaha untuk tenang dan berfikir positif atas semua yang telah terjadi sebelumnya dan hari ini.
Kita tak perah tau apa kehendak Tuhan kedepannya, mungkin saat ini ia bersama orang lain dan bisa jadi kelak ia digariskan oleh Tuhan untukku atau bahkan Ia tetap bersama orang lain dan akupun menjalani hariku dengan orang lain.
Aku hanya selalu berdoa yang terbaik untuknya dan untuk diriku, aku tak pernah berniat dan berusaha untuk membencinya. Kita tetap menjadi teman, dan aku dapat mengunjunginya sebagai teman baik yang pernah memimpikan satu atap bersama.
Aku hanya berusaha sebisaku untuk tenang, merelakan serta mengikhlaskan apa yang tidak Tuhan takdirkan untuk diriku.
Aku tetap menyayanginya, menyayangi keluarganya.
Kalau memang Tuhan menggariskan mu bersamaku maka sejauh apapun kita pergi Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan kita kembali, namun bila Tuhan memang menggariskanmu dengan orang lain maka usaha sebesar apa pun kita untuk bertemu dan bersatu pun tak akan mungkin.

Jumat, 22 April 2016

Merpati ku kan pergi

Aku tak pernah tau bagaimana caraku mencintaimu, memulai sebuah cerita yang pernah kita lalui.
Hari itu mungkin tuhan telah takdirkan kita tuk jumpa, saling menyapa merangkai kata tuk jadi sebuah cerita.
Mungkin aku adalah orang yang sangat beruntung memiliki waktu bersamamu, merajut sebuah kehangatan didalam kebahagiaan.
Singkatnya, aku bersyukur dihadapkan denganmu oleh Sang Ilahi.
5 juni 2012, perasaan ku tak dapat di tebak.
Aku kaget waktu kamu minta kita ketemu di depan kelas kita dulu, aku takut buat melangkah ketemu kamu.
Langkah demi langkah sedikit demi sedikit, ku lihat kamu di ujung jalan sana dengan jaket jeans kesayanganmu melangkah mendekatiku.
Kita tepat berada di depan kelas yang memang bukan tempat kita untuk janjian.
Aku takut untuk lihat ke hadapan kamu, aku takut buat bicara dan lihat mata kamu. Mungkin kalau ada orang yang lihat pipi ku merah tak dapat di sembunyikan.
Dan waktunya tiba, kamu pun bertekat mengucapkan kata demi kata yang memintaku untuk menjalani hari dengan mu, sebouqet bunga mawar dan sekeping CD kamu jadikan simbol untuk menyatakan perasaanmu.
Hariku bagi diguyur hujan kebahagiaan. Iya bahagia, bahagia memilikimu, bahagia menjalani hari denganmu.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan semua terasa manis. Sangat manis ku rasa, namun adakalanya suatu hubungan itu di uji.
Orang tuaku tak mengerti aku bahagia bersamamu, dan kau mulai terluka.
Namun aku selalu berusaha sebisa ku menjagamu, membahagiakan mu.
Setahun berlalu kita masih baik-baik saja tetap berjuang dengan masalah yang kita terpa, dua tahun perasaanmu mulai pudar dan kita sempat terpisahkan.
Kau pergi dan ku pergi, mencari arah yang berbeda.
Hingga kita dipertemukan kembali dengan hari yang tak lagi utuh, kau pernah berpaling dan akupun begitu.
Namun aku belajar untuk memulai kembali dari awal, belajar menyayangimu kembali sepenuh hatiku.
Aku berjuang dengan banyaknya rintangan, memahami keinginanmu, memahami kebahagiaanmu.
Namun usahaku tak cukup gigih hingga di tahun ke 3 kita kembali dipenuhi hujan badai, mungkin setiap hari ku di penuhi air mata. Air mata takut kehilanganmu, kau merasa tak nyaman lagi untuk tetap bersamaku. Kau berfikir usahamu tak ada yang ku hargai, namun dibalik semua itu aku selalu menghargaimu.
Hampir empat tahun kita membuat cerita dan kini ku tahu kau bukan milik ku lagi.
Aku menangis di setiap doaku menyebut namamu, andai waktu dapat di putar dan memperbaiki semua yang telah terjadi, namun aku terlambat karna hatimu sudah kosong untuk ku.
Dalam tidurku, hari-hariku, aktivitasku, yang ku ingat hanyalah dirimu.
Suatu ketika ku menginginkan engkau tuk kembali, tapi aku tak sanggup dengan dirimu yang begitu menyayangi dan takut kehilangannya.
Aku menangis, saat mengucapkan "tolong kamu balikan ya sama dia".
Aku berusaha tersenyum, namun aku telah membohongi perasaanku. Aku ucapkan aku bahagia bila dirimu bahagia tapi jauh persaanku sungguh terluka, aku harus belajar merelakanmu bahagia dengan orang lain. Dengan caramu menyaanginya dengan usahamu membuat komitmen dengannya.
Hari ini mungkin hari terakhirku untuk mengusahakan berpura-pura dengan perasaanku, hari ini mungkin hari terakhirku meminta kepadamu untuk kita bertemu.
Aku akan belajar mengikhlaskanmu dengan dirinya.
Selamat tinggal wahai merpati, terbanglah dengan caramu. Terbanglah dengan sayapmu yang telah sempurna olehnya.

Dari aku yang pernah belajar mengerti dan membahagiakanmu.