Sabtu, 22 Desember 2012

RINDU IBU

Rindu ini selalu tiba disaat bintang telah terangi malam
Rindu ini selalu datang bila lampu kamarku telah padam
Rindu ini selalu membawa berjuta kehangatan akan kasih sayang
yang dulu pernah ada mengisi ruang di lubuk hati yang kini padam 
Dan rindu ini adalah sebuah rindu yang mengingatkanku akan berartinya seorang ibu
Rindu akan panggilan sayangnya 
disaat mentari pagi mulai bersinar menyapa dunia
Rindu akan sentuhan kasih sayangnya 
disaatku terlelap dipangkuannya
Rindu akan pelukannya  yang memanjakanku 
di saat ku sedang lemah
Rindu  akan berjuta tanay tentang diriku 
yang selalu membuatku malu jika dihadapnnya
Rindu akan mata yang selalu menatapku dengan penuh kasih sayang
Dan rindu akan caci maki dari bibir manisnya yang kadang membuatku kesal karenanya
Entah kapan rindu ini akan tersampaikan 
mungkin lusa  atau mungkin juga takan pernah terjawab
Walau begitu...
Ku tau rindu ini takan padam
sampai esok pagi atau bahkan hingga tuhan mulai jenuh untuk menyampaikan rindu ini
Satu yang ku minta Tuhan
Berikan aku sedikit waktu..
Walau hanya sedetik untuk berada dipelukannya 
Karena semua kini tak punya arti 
Lebih dari sekedar kekosongan yang kurasakan bertahun-tahun kini
Izinkan aku Tuhan..
Izinkan aku untuk menatap  matanya 
Walau semua itu hanya dalam mimpi
Agar aku semakin yakin bahwa Engkau ialah maha pengasih
dan membuatku semakin yakin bahwa ia  selalu ada untukku
Tentu selalu memberi kasih sayangnya yang tak  kenal ruang dan waktu
Untuk ku.. Ayah'ku.. Saudara"ku dan untuk orang yang disayanginya..


Selamat Jalan Ibu 
Semoga engkau akan selalu Bahagia 
disana...

Kamis, 20 Desember 2012

UNDIAN PARIS DALAM CINTA


Paris adalah kota paling romantis di dunia, tempat dimana kita dapat menemukan semua kisah cinta yang tak terkira sebelumnya.

      Kaus pink bermotif ikan lumba-lumba bertuliskan Paris serta celana pendek berikat simpul sederhana, rambut panjang yang ikal bernari-nari indah. Kedua tanganku menyentuh, menggerakkan, dan meninggalkan bekas… ditemani dengan musik klasik yang terpasang di playlist handphoneku.
Aku punya kebiasaan menulis entah itu puisi, cerita atau sekedar curhatan-curhatan. Yang aku rasain menulis itu adalah hal yang tidak membosankan, karena banyak hal yang dapat aku tulis tanpa harus di fikirkan terlebih dahulu.
Panggil saja aku Klara, aku seorang pemimpi yang berangan akan pergi ketempat-tempat penuh keromantisan dan cinta termasuk kota Paris bersama eiffelnya. Keinginanku ini datang sejak 2 tahun yang lalu saat tante Rina ditugaskan ke Paris dari kantornya selama 1 tahun, dan ia mengajak keluarganya untuk ikut tinggal di Paris.

Siang itu, saat mengantar keberangkatannya ke bandara perasaanku sangatlah iri terhadap tante Rina dan keluarganya sebab mereka bisa pergi bahkan tinggal di Paris kota yang aku impi-impikan. Tapi apapun itu hanyalah sebuah khayalanku untuk ada di kota penuh rahasia itu.
Seminggu setelah tante Rina dan keluarganya pergi, tante sering sekali menelphon keluargaku untuk sekedar memberi kabar atau melepas kangen pada keluarga yang ada di Indonesia, atau melalui jejaring social seperti facebook dan yang lainnya. Skypepun menjadi sasaran kita untuk berkomunikasi dengan jarak yang sangat jauh. Hampis setiap hari libur tante dan keluarganya menghubungi keluargaku. Saat berbincang dengan tante lewat skype, aku sangatlah antusias dengan keadaan di sana.
“tante betah ya disana?, enak ga disana? Gimana suasananya?” Tanyaku penasaran.
“enak banget loh ra, coba kamu ikut kesini” jawab tante sembari mengejekku.
Akupun melamun dan berfikir beruntung sekali tante bisa tinggal disana, di kota yang penuh dengan keromantisan, kota yang penuh dengan keindahannya. Eiffel yang menjulang tinggi ke langit dengan bermacam cahaya lampu yang menghiasi, membuatnya semakin indah untuk dilihat di malam hari. Sungai-sungai yang berliku memiliki cerita di setiap sisinya, gedung-gedung tua yang indah dan banyak menarik para pengunjung.
“Hmmmm kapan ya aku bisa ke sana” pekikku. Bukan hanya melihatnya dari foto-foto yang aku download selama ini.
Hari-hari berlalu sama seperti biasanya yang di penuhi dengan mimpi-mimpiku pergi ke Paris, yang berbeda adalah pagi ini aku hanya duduk manis di depan meja belajar yang tepat menghadap ke jendela kamar. Masih dengan kertas-kertas kosong yang nantinya akan aku nodai dengan tinta pulpen dan goresan-goresan pensil, temani dengan laptop yang terus-menerus memutarkan musik-musik klasik.
          Aku mulai menulis kata demi kata, kalimat demi kaliamat, dan paragraf demi paragraf yang menemaniku hari itu. Masih terus tentang kekagumanku dengan kota Paris dan eiffelnya. Aku mulai lelah untuk menulis karangan-karanganku tentang paris, aku melanjutkannya dengan membuka twitter dan mengupdet beberapa status. Dan saat itu aku mengupdate satu status yang berisi “mau makan ice cream”, namun beberapa menit kemudian ada seseorang laki-laki yang bernama Hadyan menanggapi statusku itu dan berniat menemaniku makan ice cream. Awalnya aku hanya menganggap itu sebuah ketidak sengajaan, tapi perasaan ini seperti nyambung saat berbicara dengannya walau hanya melalui twitter seperti itu.
          Keesokan harinya saat aku ingin pulang dari kampus, aku bertemu dengan Hadyan yang mau menemaniku makan ice cream dan lantas aku menegurnya.
“Hey, kapan mau kesana?” Tanyaku cepat.
“kalo hari ini gue gak bisa,sabtu mungkin” jawabnya sambil mengalihkan penglihatan.
Aku hanya mengiyakan jawabannya dan lekas meninggalkannya pergi pulang kerumah,seakan itu hanya angin lalu. Sesampainya di rumah aku beristirahat karena 2 jam setelah itu akan ada kursus, entah kenapa saat itu aku terus memikirkan laki-laki itu. Ia terus ada di fikiranku hingga pada akhirnya aku pergi ke tempat kursus. Aku berniat meminta nomer telephon Hadyan pada salah satu teman kursusku yang memang 1 kampus denganku.
“Jani, punya nomer Hadyan gak ? ,anak yang tadi ngobrol sama aku tadi pas pulang kampus.”
“ada nih, buat apa?” tanyanya bingung
“minta dong, gak apa-apa ada perlu aja” jawabku tenang.
Dan usahaku berhasil untuk mendaatkan nomer telphon Hadyan.
          Waktu menunjukan pukul 18.00 dan akupun sampai dirumah, aku langsung menuju kamarku saat itu karena merasa sangat lelah. Sampai di kamar aku langsung menghidupkan laptop dan memasang lagu Gift of a friend  yang di nyanyikan oleh Demi Lovato.  Saat mendengerin lagu terlintas laki-laki itu, sesegera mungkin aku mengambil handphone dan mengirim pesan padanya.
Beberapa menit kemudian ia membalas pesanku, dan pesan-pesan itu memerangi inbox di handphoneku yang seakan berteriak “baca aku,balas aku”. Pesan itu terus-menerus ku tanggapi hingga larus malam bahkan hingga pagi menjelang.


Kamar menjadi saksi bisuku saat itu, hatiku merasa bahagia sejak malam itu. Laptop ku nyalakan dan seperti biasa buka twitter sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaanku,saat itu rasanya aku sangat ingin makan cheese cake bahkan aku menjadikannya sebuah status di twitter “mau makan cheese cake harvest”, tak lama kemudian Hadyan datang kembali di timeline twitterku dan membalas status twitterku saat itu.
“minta bawain aja sama ojek Superman” kata Hadyan saat membalas statusku. Semalam aku dengannya terus membahas tentang superman, akhirnya aku ganti nama Hadyan menjadi “superman” di contact hp ku. Hari demi hari ku lalui dengan pesan-pesan singkat darinya yang terus memenuhi inbox di hp-ku, senyum-senyum sendiri itu menjadi ritualku setiap kali aku membaca pesan darinya. Hanya ada senyum,canda dan tawa yang aku tau semenjak dekat dengannya. Pagi, siang, sore, malam hingga pagi kembali laki-laki itu selalu menemani  dan menghiburku.
         
Hari sabtupun tiba, sebelumnya kita memang janjian di depan pintu gerbang kampus. Sesuai dengan janjinya yang ingin mengajak ku pergi hari itu, dan saat sampai di depan gerbang kampus Hadyan langsung menyamparku. Tanpa banyak bicara Hadyan langsung membawa ku pergi, bahkan aku tidak tau mau di bawa pergi kemana saat itu.
          Mobil terus melaju dan aku terus bertanya-tanya kepadanya
“kita mau kemana ?” tanyaku penasaran.
Tapi hanya tawa kecil dan senyuman yang ku tangkap darinya, aku semakin penasaran karena Hadyan tidak mau memberi tau kemana kita pergi. Mobilpu berhenti tepat di depan sebuah toko,
“Tadaaaa… kita mau kesini” ucapnya dengan penuh kebahagiaan.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan tesenyum melihat apa yang ada di hadapanku, sebuah toko kue yang ingin aku kunjungi dan ku nikmati kue-kue yang lezat itu. Berbagai kue disediakan di toko itu dn kitapun memesan beberapa kue dan minuman, ya tidak penting apa yang kita pesan saat itu yang paling terpenting adalah kebersamaan kita saat itu. Kebersamaan dan kebahagiaan yang kita dapat saat itu.
          Toko kue itu menjadi awal dimana kita saling mengenal satu sama lain dan lebih jauh. Bertukar cerita, bertukar pikiran dan saling berpandangan. Tanpa terasa matahari mulai berada tepat di atas kepala menandakan hari mulai siang dan kita beranjak pergi meninggalkan toko kue itu. Pagi begitu indah untuk kita lalui bersama, dan berharap itu menjadi moment pertama yang sangat berkesan. Kitapun berpisah dan pulang kerumah masing-masing.
          Sesampainya dirumah aku mengirim pesan untuknya lewat sms,
“makasih ya buat hari ini, aku seneng. Maaf ya ngerepotin”.
Tidak lama kemudian pesanku pun dibalah olehnya dan terus berlanjut hingga seterusnya.

Hari itu hari minggu, hari yang berbeda dengan hari-hari libur sebelumnya. Setiap hari libur, biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kamar, tapi tidak untuk hari itu. Bahkan aku tidak bisa diam, entah ada apa dengan diriku sat itu. Rasanya aku belum pernah merasa sebahagia ini, senyum-senyum depan cermin dan terus menatap layar handphone berharap pesan singkat datang darinya setiap saat.
Hingga aku terus bertanya pada hati dan perasaanku sendiri,
Apakah aku merasakannya lagi ?
Apakah ini yang namanya jatuh cinta?
Semoga perasaanku ini benar, dan semoga perasaanku ini jatuh pada seseorang yang tepat.
         
Empat hari setelah aku pergi dengannya, pagi itu terlihat biasa saja namun perasaanku yang tidak biasa. Jantungku terasa berdebar lebih cepat saat itu, jam tanganku menunjukan pukul 11.00 dan tiba-tiba saja handphoneku bergetar menandakan ada pesan masuk. Ku ambil handphone dari saku celana jeans yang aku kenakan saat itu dan ku lihat “superman”  di layar handphoneku. Aku membuka pesan dengan rasa deg-degkan dan isi pesannya,
“aku mau ketemu kamu sekarang, aku tunggu kamu di depan ruang seni”.
Aku bingung harus berbuat apa, tiba-tiba dada ini terasa sangan mencekam dan jantung ini seakan menghentikan detaknya. Aku takut, aku bingung, perasaan ku tak karuan. Dengan perasaan yang tak tentupun aku menemuinya, saat aku sampai di dapn ruang musik…
Aku meliatnya duduk tepat dihadapanku, dan hadyanpun mulai bericara.
“mungkin ini emang terlalu cepat buat kita, tapi aku anggap ini waktu yang tepat” ucapnya gugup.
Aku hanya diam, tubuhku dingin seketika seperti beku dan tak dapat berbuat apa-apa.
“ini bunga buat kamu. Kalo kamu mau jadi pacar aku, kamu ambil bunga ini”
Aku diam, berfikir apa yang harus aku lakukan saat itu.
“iya aku mau jadi pacar kamu” jawabku sambil mengambil rangkaian bunga yang ada di genggamman tangannya.
“satu lagi, ini buat kamu juga” katanya sambil memberikan sebuah benda kecil yang terbungkus oleh kertas kado.
“makasih ya” balasku dengan senyum sebelum meninggalkannya di tempat itu.
          Hatiku terasa sangat berbunga-bunga, itu memang bukan pertama kali aku merasakan jatuh cinta tapi saat itu rasanya sangatlah bahagia. 10 tangkai bunga mawar merah dan 1 tangkai bunga mawar putih menjadi teman perjalanan pulangku kerumah, aku terus tersenyum sendiri sampai-sampai banyak orang yang melihat ke arahku dan seakan membalas senyumku. Mungkin mereka mengira aku memberikan senyum kepada mereka, tapi kenal saja tidak mengapa mereka membalas senyumku itu. 

        Sepanjang perjalanan di kompleks rumahku, lagi-lagi aku tersenyum sendiri sambil memeluk rangkaian bunga yang Hadyan berikan. Saat di gerbang rumah aku cepat-cepat membuka pagar dan memencet bel dengan semangat, tak lama terdengar suara kunci dan pintu yang baru saja di buka. Ani pembantu yang berkerja di rumahku membukakan pintu, ia berdiri kaku tepat di depanku.
“wahh non, kok senyum-senyum sendiri gitu. Bunga dari siapa non? Bagus banget” tanyanya dengan wajah penasarannya.
“dari siapa ya… mau tau aja sih kamu” jawabku sambil berjalan memasuki rumah. Pembantuku yang satu itu memang selalu kepo (penasaran) sama apa yang aku dapat dan lakukan. Tapi ia adalah orang yang selalu mendengarkan dan menemaniku curhat kalau saja aku sedang merasakan sesuatu, contohnya hari itu. Tanpa mengganti bajuku terlibih dahulu, aku langsung cepat-cepat pergi ke dapur dan mencari vas bunga untuk menaruh rangkaian bunga yang ku terima.
          Aku sibuk mencari vas bunga di setiap lemari dan laci yang terdapat di dapur tapi tidak ketemu, akupun memanggil Ani untuk membantuku mencari vas bunga tersebut. Tetapi saat mecari vas bunga Ani sangat cerewet menanyakan banyak hal tentang hari itu, terutama tentang seseorang yang memberikan bunga kepadaku.
“Non bunganya dari siapa sih? Buat ani aja deh ya”.
Karena kasihan melihat dirinya yang dihantui dengan kekepoan, akhirnya aku menjelaskan kejadian yang ku alami siang itu di kampus.
“gini loh ni, tadi itu di kampus aku abis di tembak sama cowok. Dia ngasih aku bunga yang tadi aku bawa, romantis gak kalo di tembak cowok kaya gitu?”.
“ooooh jadi bunga itu dari pacarnya non toh, romantislah non. Coba Ani yang di kasih bunga kaya gitu pasti Ani seneng banget non”.
“halah kamu ngayal aja ni, mana ada cowok yang mau ngasih bunga sebagus itu ke kamu” ledek ku sambil menertawakannya.
“ah si non bisa aja hahaha…” jawabnya sambil tertawa.
Dan saat itupun dapur dipenuhi oleh suara tawa kita berdua.
“nah ini vas bunganya non” ucap Ani sambil memengang vas bunga yang baru saja ia temukan.
“oke, makasih loh ni” jawabku sambil mengambil vas bunga yang ada di genggaman Ani saat itu.
          Aku cepat berlari menaiki anak tangga dan pergi masuk ke kamarku, di kamar aku menaruh vas bunga di meja belajar tepat di sebelah laptopku. Aku membuka tas dan mengambil benda kecil yang terbungkus oleh kertas kado yang Hadyan beri sebelum aku pergi meninggalkannya, ku buka kertas kado yang menyelimuti benda tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah CD bercover lambing superman dan bertuliskan “untuk Klara dari superman”, aku sangat senang memanggil Hadyan dengan sebutan superman karena kita sering sekali membicarakan tetang superman. Laptop ku nyalakan dan ku pasang CD tersebut, awalnya hanyalah musik-musik klasik yang terdengar tetapi tak lama kemudian syair-syair puisi yang terdengar. Aku ingat salah satu syair puisi yang ku dengar dari CD itu “Cinta itu seperti kupu-kupu, semakin di kejar maka ia akan pergi. Tetapi apabila kita tidak menyadarinya maka ia akan datang menghampiri kita dengan sendirinya”.
          Bunga dan CD yang Hadyan berikan ku simpan tanpa aku hiraukan bahwa bunga tersebut sudah mulai layu dan menjadi kering kerontang, tapi bunga dan CD itu baru awal kebahagiaanku bersamanya dan masih banyak kebahagiaan lainnya yang aku lalui bersamanya.
         
Aku masih terus berharap dengan kota paris, hingga suatu ketika di sebuah toko buku bersama Hadyan. Aku menemukan berbagai macam buku bercover tempat-tempat yang ada di luar negri.
“dari semua tempat yang ada di situ kamu mau kemana?” Tanya Hadyan kepadaku.
Aku menunjuk satu buah buku yang bercover menara Eiffel dan menara tersebut tepat berada di kota paris, kota yang aku idam-idamkan.
“tunggu ya 1 tahun lagi kita kesana” jawabnya dengan senyum yang selalu menenangkan perasaanku.
Aku hanya diam dan tersenyum berharap semua itu bukan hanya ucapan tapi juga kenyataan.
         
Tak terasa 1 tahun sudah setelah keberangkatan tante Rani ke paris, dan hari itu aku disuruh oleh bunda menjemput tante Rani dan keluarganya di bandara, ya karna memang hanya aku satu-satunya anak ayah dan bunda yang masih tinggal dirumah jadi ya hanya aku yang bisa di minta pertolongan kalau masalah pergi-pergi atau menjemput seperti ini. Sedangkan kakak-kakaku sudah tinggal bersama istrinya dirumah mereka masing-masing, tentu dengan anak-anaknya juga. Untung saja perjalanan menuju bandara tidak menuju bandara tidak macet, kalau macet bisa-bisa aku dimarahi bunda karna telat menjemput tante dan keluarganya di bandara.
          Akupun mencari parkiran yang kosong dan segera menunggu tante Rani yang akan mendarat di bandara Internasional Soejarno-Hatta, tak lama saat aku menunggu tante Rani handphoneku pun bunyi. Tante Rani menelpon ku memberitau bahwa ia sudah sampai di bandara, dan saat telephone tertutup ada suara perempuan memanggil-manggil namaku dari kejauhan. Suara itu adalah suara sepupuku bernama Desvi, ia adalah anak tante Rani yang ke dua dan anak yang pertama bernama Feldi mereka hanya beda selang 3 tahun dan 4 tahun denganku. Aku ini sangat akrab dengan mereka berdua, terlebih dengan Desvi karena kita sama-sama perempuan sehingga sering sekali bertukar cerita. Setelah aku menyampar tante Rani dan keluarganya, kita segera pergi ke parkiran dan meluncur ke suatu Mall di daerah Pondok Indah. Di sana kita makan siang dan berbincang-bincang, ya terlebih menceritakan saat tante Rani dan keluarganya berada di Paris.
Saat berada di restoran, kami memesan beberapa makanan dan minuman untuk menemani obrolan siang itu.
“Ra kapan-kapan kita pergi ke Paris rame-rame yu!” ucap tante saat menunggu pesanan datang.
“ayo tante, kapan?” jawabku saat itu.
“nanti ya kalo kita barengan liburnya” kata tante.
“asikkkk kita mau ke paris rame-rame, jalan-jalan ke kota idamanku” seruku sangat gembira.
“lohh kamu suka Paris ra?” Tanya tante menyela pembicaraanku.
“hehehe… iya tan, abis Paris itu keren banget sih kalo aku liat di foto-fotonya. Ditambah lagi tante bikin aku iri bisa pergi kesana”
“hahaha… kalo gitu sih kenapa kamu gak ikut aja ke Paris tahun lalu sama tante?”
“yahh tan, kan aku kuliah disini. Masa iya aku ga kuliah setahun” jawabku dengan wajah cemberut.
“iya juga sih, tapi kan kamu jadi iri tuh sama tante” jawab tante mengejekku.
Tak lama kemudian pesananpun datang, dan kamipun menikmati makan siang bersama-sama.
          Saat perjalan pulang, kami terus bercerita hingga kamipun sampai dirumah. Lelah sekali rasanya hari itu, di lalui dengan penuh cerita canda dan tawa. Terutama bercerita tentang kekagumanku dan pengalaman tante Rani dan keluarganya di Paris, ada suka dukanya selama mereka disana ya walupun lebih banyak sukanya kata tante Rani tapi di seling-selingan suka pasti ada dukanya termasuk duka karena ekonomi disana berada pada tingkat lebih tinggi di banding ekonomi di Indonesia, semua disana sangatlah mahal semurah-murahnya juga tidak sebanding dengan Indonesia. Ya maklumlah orang indonesiakan maunya yang murah-murah apa lagi perempuan, ada diskon sedikit langsung diserbu bagaimana kalau ada yang gratis pasti belum sampai semenit sudah ludes semuanya.
          Sampai di rumah, aku langsung saja pergi ke kamar mengambil baju dan handuk lalu mandi. Mandi air hangat saat tubuh lelah itu rasanya damai, seakan tubuh yang tadinya lemah menjadi segar kembali.
Selesai mandi aku tidak lagi memikirkan cacing-cacing yang diperut ini sudah bernyanyi, karena lelah langsung saja aku merebahkan badan di kasur dan menenggelamkan wajahku dibantal, tak sampai 5 menit aku sudah tidur lelap karena terlalu lelah.
          Tiga bulan setelah tante Rani pulang dari Paris,
Tante Rani bilang padaku bahwa ada sebuah undian tiket berlibur ke Paris dari salah satu produk ternama di Indonesia dan ia memberikan selembar kertas yang bertuliskan “Undian Berlibur ke Paris”, akupun dengan semangat mengikuti undian tersebut tanpa lupa memberi tau Hadyan saat itu.
Saat pulang kuliah aku berniat ingin bertemu dengannya dan menceritakan tentang undian Paris itu, kita janjian jam 16.00 di toko kue yang pernah aku kunjungi dengannya waktu itu. Mata kuliahpun selesai dan aku segera pergi meluncur ke toko kue itu, aku sangat tidak sabar untuk memberi tau tentang undian itu keada hadyan dan aku ingin tau apa reaksinya saat ia tau tentang undian itu.
Akupun sampai di toko kue, masuk kedalam toko itu dan menemui hadyan yang memang sudah menungguku sejak setengah jam yang lalu.
“heyy mas, udah lama ya nunggunya ?” kataku memecahkan suasana canggung yang tersudut kepada kita berdua.
“hemm enggak ko biasa aja” jawabnya menutupi kekesalan karena telah lama menungguku ditempat itu.
“maaf deh, akunya kan baru selesai ngampus jadi lama deh” ucapku dengan rasa bersalah telah membuatnya menunggu.
“iya gak apa-apa ko” jawabnya dengan senyuman manis yang menenangkan suasana saat itu.
“oh ya, kau udah pesen cake?”
“udah ko, kamu juga udah aku pesenin ko. Biasa cheesecake sama milkshake chocolate hehehe..” jawabnya tenang.
“hehehe tau aja kamu kesukaan aku” dengan tawa aku menanggapinya.
Cheesecake dan milkshake chocolate adalah menu favoritku sejak dulu setiap kali ke toko kue itu, dua sajian itu memberikan kenikmatan tersendiri dibenakku.
          Akupun memulai menceritakan tentang undian itu kepada Hadyan sembari menunggu pesanan datang.
“mas aku dapet ini” sambil menunjukan lembar undian tersebut.
“apa itu ?” tanyanya penasaran sambil mengambil undian itu dari tanganku.
“itu undian liburan ke Paris, aku dapet itu dari tanteku yang baru pulang dari Paris 3 bulan yang lalu.”
“wahhh mau dong.. ini buat aku ya, atau masih ada lagi gak?” pintanya dengan tatapan maut yang membuatku salah tingkah.
“enak aja gak boleh ah, udah gak ada mas. Aku Cuma dapet satu dari tante, itu juga dapetnya karena dia beli produk gitu di supermarket.” jawabku menerangkan padanya.
“yah padahalkan aku juga mau ke Paris” keluhnya dengan merubah raut mukanya yang menjadi berkerut-kerut tak teratur seperti menunjukan rasa kecewa.
         
Pelayanpun datang membawa pesanan ku dan Hadyan berdua, dan pembicaraanpun di selesaikan karena tidak dapat menahan dahaga akan sajian yang ada di hadapan kita.
Sore itu terasa sangat cepat, sehingga matahari terperosot kearah barat dan hilang di telan kegelapan malam yang di gantikan dengan sinar rembulan dan bintang-bintang. Cake dan minuman yang kita pesanpun sudah habis tanpa sisa sedikitpun kecuali piring dan gelasnya. karena hari sudah malam, maka kitapun harus pulang kerumah agar orang tua kita tidak khawatir.
Hadyan mengantarku sampai depan rumah dan tak lupa mengucapkan salam perpisahan, tak lama kemudian mobilnyapun sudah tak terlihat lagi di ujung tikungan rumahku dan akupun masuk ke dalam rumah. Entah itu kebererapa kalinya aku melewati waktu dengannya, namun terasa nyaman setiap berada di dekatnya. Mungkin itu terasa karna adanya rasa sayang di hati ini, halah lebay banget aku ini bentar-bentar cinta hahaha biarlah yang penting hidupku bahagia dan di akhirat nanti juga akan bahagia.
Ayam sudah berkokok menandakan sang fajar telah muncul, hari itu aku pergi ke kantor Pos untuk mengirim lembar undian tersebut ke alamat yang di tetapkan pada produk ternama itu. Proses pengirimanpun memakan waktu 2 hari karena memang jarak yang lumayan jauh ke tempat tujuan, akupun menunggu pengumumman undian tersebut. Tetapi 4 hari setelah aku mengirim undian tersebut lewat pos , aku menerima sebuah kiriman yang ternyata kiriman itu adalah undian yang aku kirimkan 4 hari yang lalu. Tubuhku sangat tak berdaya, lemah saat melihat undian itu tidah terkirim karena salahnya alamat yang dituju. Aku hampir setengah putus asa, hingga akhirnya aku menelphon Hadyan dan menceritakan semuanya yang telah terjadi saat itu.
          Nada telephonpun berbunyi menyambungkan telphonku ke handphone Hadyan, tak lama terdengar suara hadyan menerima telphonku.
“hallo, kenapa sayang ? ko tumben telphon aku siang-siang kaya gini.” tanyanya bingung.
“aku bete mas, undian yang aku kirim salah alamat” jawabku sambil menahan tangis.
“ya ampun, kok bisa ? memang kamu kirim ke alamat yang mana?”
“aku kirim ke alamat yang ada di lembar undiannya mas” jawabku sambil menitihkan air mata.
Hadyanpun mengetahui bahwa aku menangis saat berbicara dengannya lewat telephon, dan ia pun berusaha menenangkanku.
“udah dong jangan nangis sayang, tenang ya. Besok kamu bawa undiannya ke kampus terus kita ketemu ya, nanti aku bantuin biar alamatnya ga salah lagi terus kita ke kantor pos kirim ulang undiannya.” Ucapnya yang berusaha menenangkanku.
“iya mas besok aku bawa deh, tapi masih sedih” jawabku dengan nada kecewa.
“udah nangisnya ya sayang, kan besok aku bantuin. Semoga aja bisa dan semoga aja kamu menang, jangan patah semangat dulu sayang” katanya menyemangatiku,
“yaudah iya, makasih ya mas udah nenangin aku. Telephonnya udah dulu ya aku mau istirahat, dadah mas.” Ucapku sebelum menutup telephon.
“dadah..” ucapnya saat menutup telephon.
Akupun beristirahat dan berharap semoga waktu cepat berlalu agar hari berganti menjadi esok.
          Keesokan harinya saat bertemu Hadyan di kampus aku memberi amplop yang berisi undian kepadanya agar di perbaiki,
“nih mas undiannya” ucapku saat menyerahkan amplop tersebut kepadanya.
“hemm coba aku periksa ya” ucapnya saat melihat amplop itu.
“iya mas” jawabku semangat.
Hadyanpun meneliti kata demi kata yang ada pada amplop dan undian tersebut dan ia menemukan sesuatu.
“nahh ini dia kesalahannya, sayang jelas gak sampai ke tujuan. Kamu salah nulis alamat, yang kamu tulis itu bukan alamat dari produknya” ucapnya sambil menunjuk alamat yang berada pada lembar undian tersebut.
“huh pantesan aja, terus alamat yang benernya mana?” jawabku lega.
“nihh yang ini” menuntun tanganku menunjuk alamat tersebut.
“walah kalo gitu sih hari ini aku bisa langsung pergi ke kantor pos buat mengirim ulang” jawabku dengan penuh semangat.
“oke aku temenin ya” katanya sambil merayuku.
“iya-iya kamu temenin deh, makasih ya sayang” jawabku sambil memegang tanganya.
          Siang itu aku dan Hadyan pergi ke kantor pos untuk mengirim ulang undian itu, sesampainya di kantor pos aku cepat-cepat mengurus pengiriman tersebut karena sebentar lagi kantor pos itu akan tutup. Selesai mengurus pengiriman itu kita berdua pulang dan lagi-lagi Hadyan mengantarku sampai rumah. Di perjalanan pulang aku berbicara kepada Hadyan ,
“mas doain ya semoga undian aku kekirim, terus aku menang” ucapku lirih sambil memandanginya yang sedang menyetir mobil.
“iya aku doain kok, aku kan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu” jawabnya dengan sesekali menoleh ke arahku.
“makasih mas”.
Di depan rumahku kita berpisah, saling mengucapkan salam perpisahan ritual yang wajib dilaksanakan sebelum kita berpisah. Layaknya seorang anak kecil yang ingin berpisah dengan temannya setelah bermain bersama.
          Satu bulan setelah aku mengirim undian tersebut, aku menerima pos kembali. Perasaanku gugup takut kalau itu adalah undianku yang tidak terkirim lagi, amploppun ku buka dan ku mulai membacanya dengan hati-hati. Dan ternyata isi amplopnya adalah selembar kertas berukuran A4 yang disitu tertulis “SELAMAT ANDA MEMENANGKAN UNDIAN BERLIBUR KE PARIS SELAMA SEBULAN, yang di sponsori oleh Neurin”.
Saat itu perasaan ku tak lagi gugup tapi berubah menjadi terkejut, rasanya seperti mimpi bahwa aku akan segera pergi berlibur ke kota idamanku.
“Aaaaaaaaaaaaaaa……… horeeeeee… akhirnya aku menang” teriakku sekencang mungkin sehingga membuat orang-orang yang dirumah terkaget-kaget.
“apa-apaan sih kamu ra teriak-teriak kaya gitu, berisik tau” ucap bunda memarahiku karena heran dengan kelakuanku.
Akupun langsung berlari dan memeluk bunda dengan erat, sehingga bunda semakin bingung.
“iihhh kamu ini kenapa sih ra, aneh banget” Tanya bunda kebingungan.
Akupun melepaskan pelukanku dan berkata,
“ini loh bun ini, aku menang” sambil menunjukan lembaran yang baru saja aku terima.
“coba bunda liat sini”
“nihh nihh bun” memberikan lembaran itu kepada bunda.
“Alhamdulillah anak bunda menang undian ke Paris” ucap bunda penuh syukur kepada Allah.
“iya bun, Alhamdulillah banget bisa menang. Oh ya bun aku mau kasih tau Hadyan dulu ya hehehe” ucapku dengan penuh senyuman.
“oke deh” jawab bunda.
          Akupun cepat-cepat menelphon Hadyan, tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang taka sing di telingaku.
“hallo, kenapa sayang ?”.
“aku seneng banget-banget” jawabku dengan semangat 45.
“wahh bagus dong, seneng kenapa nih kamu?” tanyanya penasaran.
“aku menang undian mas” .
“Alhamdulillah, akhirnya ga sia-siakan usaha kamu sayang”.
“iya mas, tapi kan berkat kamu juga. Kalo aja waktu itu kamu gak teliti pasti aku gak bisa sebahagia ini”.
“hehehe jadi malu nih” jawabnya sambil tertawa kecil.
“maksih ya sayang” ucapku dengan lembut.
“iya sama-sama”
Namun tiba-tiba suaraku berubah menjadi melemah,
“tapi gak seru, kesananya cuma sendirian. Coba kesananya sama kamu” .
“ya tapikan mau gimana lagi, aku kan gak ikut undiannya” jawabnya dengan nada lemah mengikuti nada bicaraku.
“iya sih, yaudah deh gak apa-apa. Udah ya yang kasian bunda bayar telephonnya nanti mahal hehehe… dadah mas” ucapku sebelum menutup telephon.
         
          Tiga hari setelah aku menerima pos dari Neurin, akhirnya keberangkatan menuju Paris dilaksanakan. Keluarga mengantarku sampai di bandara tapi ada yang kurang, aku tidak melihat Hadyan saat itu. Mungkin dia sibuk, pikirku saat itu. Walau dengan hati sedih karena Hadyan tidak ada, tapi aku berusaha sebisa mungkin untuk melupakan sedih karena hari itu adalah awal dari perjalananku ke Paris. Sebelum berangkat aku berpamitan keada keluargaku, dan mereka seperti tidak rela membiarkan aku pergi sendirian, dan aku memasuki pesawat menikmati penerbangan walau membosankan karena untuk pergi ke Paris saja menunggu 4 hari untuk sampai. Yang aku lakukan di pesawat hanyalah makan, minum, nonton film yang disediakan, mendengarkan lagu, dan tidur.
          Akhirnya sampai juga di Paris, saat turun dari pesawat dan mengurus kedatanganku di Paris. Aku melihat seseorang yang sepertinyaku kenal, ah tapi tidak mungkin mana ada orang Indonesia di sini selain orang-orang yang mempunyai nasib yang sama denganku yaitu memenangkan undian.
Akupun menuju ke suatu hotel yang tak jauh dari bandara bersama rombonganku, sampai di hotel aku melihat lagi seseorang yang sepertinya ku kenal tadi saat di bandara. Tapi aku sedang sibuk mencari-cari kamar hotel dan akhirnya aku tidak menghiraukan seseorang itu. Saat aku temukan kamarnya , aku sgera membuka pintu kamarnya dan masuk untuk beristirahat.
          Malamnya rombonganku mengadakan tour ke menara Eiffel, akupun teringat Hadyan yang waktu itu pernah berkata padaku. “tunggu satu tahun lagi kita kesana”, dan kata sana dalam pembicaraan itu adalah Paris.
Aku merasa sedih karena ini tepat setahun setelah Hadyan berbicara seperti itu kepadaku, tapi Hadyan tidak ada disini bahkan ia tidak memberi kabar kepadaku sejak keberangkatanku ke Paris. Aku dan rombongan berangkat menuju menara Eiffel malam itu, dan saat sampai di menara Eiffel kami berpencar dan akan berkumpul lagi pukul 21.00 di tempat kami sebelum berpencar.
          Aku berjalan mendekati menara Eiffel, dan saat itu aku melihat seseorang yang mirip sekali dengan orang yang ku kenal selama ini. Orang itu jalan mendekatiku, dan akupun menerka-nerka memperjelas pandanganku terhadap orang tersebut. Semakin dekat dan dekat berdiri tepat didepanku, hanya ada jarak 10cm dari tempat aku berdiri dan orang itu berdiri. Ku perjelas kembali pandanganku kepada orang itu, dan aku merasa ini adalah mimpi. Orang yang berasa di depanku saat itu adalah orang yang sedang aku rindukan, seseorang yang memiliki mimpi bersamaku di kota ini. Orang tersebut adalah Hadyan, akupun cepat-cepat memeluknya dan berkata,
“kenapa kamu bisa ada disini ?”.
Hadyan berusaha melepaskan pelukanku dan menjelaskan semuanya kepadaku. Ternyata saat aku memberi tau tentang undian itu Hadyan cepat-cepat mencari produk yang aku sebutkan setelah mengantarku pulang kerumah, dan ia juga mendapatkan lembar undian yang sama sepertiku. Setelah ia mendapatkannya esoknya ia langsung mengirimkan undian itu melalui pos dan ia mendahuluiku sehingga ia tau apa kesalahanku saat menuliskan alamat diamplop saat itu. Ia sengaja tidak memberi tauku tentang ini dan ia sengaja tidak memberi kabar kepadaku sejak keberangkatan ke Paris. Dan ia sengaja menghindariku selama penerbangan hingga sampai di hotel siang itu agar semua ini menjadi kejutan untukku, ia adalah seseorang yang selalu tau membuatku bahagia tanpa aku kira sebelumnya.
          Malam itu menara Eiffel menjadi saksi bisu kita berdua, saat aku dan Hadyan sedang menikmati indahnya pancaran sinar lampu yang menghiasi Eiffel tiba-tiba Hadyan berubah menjadi serius.
“kamu inget gak, waktu satu tahun yang lalu aku pernah bilang apa ke kamu?” tanyanya dengan wajah serius.
“iya aku inget, kamu bilang kita akan ke tempat ini di tahun ini” jawabku sambil menatap matanya.
“ya, hari ini tepat setahun setelah perkataanku itu. Aku mau kasih kamu ini” ucapnya sambil mengeluarkan suatu benda dari jaket yang ia kenakan saat itu.
Dengan setengah berlutut ia memegang tanganku dan membuka sebuah kotak yang berisi cincin.
“mas ini apa-apan sih?” tanyaku gugup.
“biar Eiffel yang menjadi saksi kisah kita saat ini, biar Eiffel yang menjadi saksi tulusnya kasih sayang aku kepada kamu.”
Dan Hadyanpun memasangkan cincin itu di jari manisku.
Entah kisah romantis apa lagi yang ada dalam mimpiku. Satu mimpiku sudah tercapai yaitu, pergi keparis menemukan cinta sejatiku yang tak pernah terduga selama ini.
          Semua mimpi dan angan akan menjadi kenyataan dalam hidup apabila semua itu dibarengi oleh usaha dan doa.



 THE END