Jumat, 15 Maret 2013

cerpen amar


Pelangi di Ambang Senyumanmu

Saat aku terpaku di timeline jejaring sosialku, melihat bahasamu yang tersedu-sedu
bersedih
saat orang yang kau cinta pergi meninggalkanmu, kaupun ingin ice cream sebagai pelampiasaannya. Hatikupun terketuk untuk menemani, hingga keesokan hari aku melihat senyumanmu
menari-nari dihariku. Mungkin pertama kalinya aku terjaga di kehampaan siang itu dan kita hanya dipisahkan oleh beberapa langkah kaki. Aku yang terpaku dengan jaket jeans kebanggaanku
kamu dalam senyuman dengan kain yang melilit di atas rambutmu yang terlihat serasi digunakan. Walaupun itu hanyalah hiasan setiap hari jumat datang.
Dari awal kamu sambut
ketika aku datang untuk mengenalmu lebih jauh, mengajakmu pergi ke toko kue itu yang mengusung tema coklat di setiap semboyannya. Disaat kau bernaung dalam lembah kesedihan, saat ia telah pergi meninggalkan sebuah harap.
Tapi tuhanpun berkehendak lain

akupun berkata “Mungkin sabtu besok?”
kaupun hanya tersenyum dan mengiyakannya
detik dan menitpun datang menjemputmu
aku hanya terdiam mengganggapnya angin lalu, hingga haripun silih berganti.
Handphoneku kini berbunyi, menandakan pesan masuk yang tak sabar ingin dibuka. Mungkin ia menjerit disaat memikul kata, andai ia bernyawa.
Dirikupun beranjak dan bertanya-tanya dalam kebisuan, nomer siapa ini? apakah dia? dia yang akan bersamaku di toko kue itu.
Ternyata benar, tapi apa yang ia sampaikan tak sesuai dengan harapku
aku tersenyum menanggapinya
dan membalas pesan singkat yang kubaca
aku berpikir, mungkin bukan saatnya.
Tapi entah kenapa pesan singkat ini terus menerus memasuki kotak masuk-ku, akupun antusias untuk membalasnya hingga hari-haripun berlalu kita terus berhubungan. Entah siang atau malam, hingga pagi benderang. Dibumbui dengan canda tawa disetiap katanya
Sampai kaupun berkata “Aku lagi mau cheese cake harvest nih, tapi kapan ya? Sibuk begini”
Akhirnya ada niat dariku mengajakmu pergi ke toko kue itu, ah tapi akan terlihat basi tanpa suatu kejutan.
Detik-detikpun berlalu
aku mengajakmu pergi sabtu nanti
tanpa kuucap kemana kita melangkah.
Kesan pertama semoga tidak mengecewakan, kemeja lengan panjang putihpun aku kenakan, terlihat sangat serasi dengan sepatu kulit itu
kaupun bertanya-tanya ingin kemana kita
aku hanya tersenyum dan tertawa menggodamu.
Roda mobilpun berhenti, “tadaaa kita mau kesini” ucapku, dan kaupun hanya tersenyum meluluhlantahkan hati ini
sang waiterspun membuka pintu, kami masuk dengan perlahan diambang kebisuaan, berdoa penuh harap ada yang memulai percakapan.
Strawberry cheese cake dan chocholate devil menjadi pilihan kami berdua, ditemani milkshake coklat serta cappuccino hangan dipagi ini.
Obrolan kita
ditambah senyuman hangatmu itu
alah, sangat indah momen di pagi hari ini.
Detik demi detik, mengusung menit, membuat jam demi jam pun berlalu. Hingga matahari diporos tengah langit bumi
hingga kamipun beranjak pergi, meninggalkan selembaran uang menghiasi meja itu
mungkin momen itu akan membalut luka dihatimu, nestapa hilang diambang-ambang sang surya yang meredup di senja nanti.
Jadi…begini ya rasanya jatuh cinta? Aku merasakannya kembali
Mulanya
Bagaimana
Merasakan kembali
4 Juni 2012 aku bersama segumpal tekad untuk menjadikanmu kekasihku, satu keping cd yang kubungkus rapih serta sepuluh mawar merah dan satu mawar putih ditengahnya menjadi saksi bisu
saksi bisu kebodohanku yang takut menyatakannya kepadamu
yang membuat tidurku tak pernah lelap
keesokan harinya aku membuat tekad untuk mengucap kata di depanmu
senyum indahmu menggetarkan hati ini, membuat anganku terombang-ambing saat kau ucap “Iya, aku mau kok jadi pacar kamu”

akupun menghela nafas dan mulai menjalani langkah ini denganmu, hingga saat ini. Namun seringkali kejatuhan bukan karena kesejatian rasa antara dua, namun antara suatu presepsi.
-Amar Ma’ruf H.M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar